Surabaya, Kanaltv.net – Pemerintah Kota Surabaya kembali memulangkan orang-orang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) ke daerah asal yang didampingi langsung oleh para TKSK, Senin (9/10/17).

PMKS yang dipulangkan ke daerah asal meliputi 56 penderita psikotik, yang kondisinya telah dinyatakan baik oleh dokter, serta 25 gelandangan/pengemis yang sebelumnya ditempatkan di Liponsos Keputih dan mereka telah tinggal disana selama bertahun-tahun.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di sela-sela sambutannya berpesan kepada penyandang PMKS, agar tidak kembali ke Surabaya dan setelah tiba di daerah asalnya diharapkan mendapat pekerjaan yang layak.

“Surabaya ini dikontrol terus, jadi tolong jangan kembali, jika tidak ada yang dikerjakan,” ujar Risma saat disela-sela sambutannya di halaman Taman Surya.

Pemulangan PMKS bulan ini dilakukan menggunakan 11 armada mobil yang menuju daerah-daerah di Jawa Timur seperti, pasuruan, malang, blitar, pamekasan, situbondo, banyuwangi serta dua bus ke Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sedangkan untuk PMKS dari luar pulau lainnya dipulangkan menggunakan kapal atau pesawat.

“Selama perjalanan mereka didampingi satu dokter, tujuh anggota TKSK dan dua orang perwakilan dari Dinsos,” kata Wali Kota Surabaya.

Risma juga mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) setempat agar mau menampung dan merawat PMKS setibanya di kota masing-masing. Baginya, koordinasi ini penting dilakukan agar nasib para PMKS tidak terlantar melainkan sudah memiliki wadah yang jelas.

Ia menambahkan pemerintah kota memutuskan memulangkan PMKS karena Liponsos Keputih sudah tidak cukup lagi untuk menampung mereka.

“Dalam sehari pasien PMKS selalu bertambah satu sampai tiga orang, kan lama-kelamaan tidak cukup ruangannya, kalau pun diperlebar gedungnya TKSK nya juga sulit untuk merawat dan mengawasinya,” katanya.

Ia mengatakan selama berada di Lingkungan Pondok Sosial, PMKS mendapatkan semua kebutuhan seperti makan, obat, pakaian dan layanan kesehatan dari tim dokter.

Risma juga menyampaikan, ketika hendak memulangkan PMKS, banyak daerah yang mengatakan kami tidak manusiawi. Padahal menurut wali kota, setiap hari kami beri makan, bahkan jauh dari orang normal, lalu diberi obat, tim dokter rutin datang tiap hari dan memberi pakaian layak.  Alasan lain, pemda dan pihak keluarga tidak ingin menerima mereka karena menganggap penderita PMKS adalah beban.

“Mereka itu loh manusia, siapa yang mau jadi gila, bisa saja kami lempar keluar, tetapi kami tidak mau karena mereka juga sama seperti kita. Mereka bukan barang yang bisa dilempar-lempar begitu saja,” pungkas wali kota. (and)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here