Polsek Simokerto Tetapkan Empat Orang Tersangka Pelaku Pengeroyokan Santri Ponpes Darussalam

0
53
4 Orang Tersangka Pelaku Pengeroyokan Santri Ponpes Darussalam

Surabaya, kanaltv.net – Aksi pengeroyokan hingga menewaskan Muhammad Iqbal Ubaidillah (15) santri Pondok Pesantren Darussalam, Surabaya pada Minggu, 03 September 2017 lalu, akhirnya pelaku ditetapkan sebagai tersangka.

Dalam kasus ini, Kapolsek Simokerto Polrestabes Surabaya, Kompol Masdawati Saragih mengatakan, pihaknya telah menetapkan empat orang pelaku sebagai tersangka. Mereka adalah MN (18), TH (15), MA (14) dan SI (15).

“Mereka terbukti melakukan pengeroyokan terhadap korban hingga tewas. Pengeroyokan terhadap korban ini berawal dari masalah sepele. Di pondok tersebut, uang beberapa santri sering hilang. Para pelaku lantas menuduh korban lah yang mencurinya,” kata masdawati, Rabu (06/09).

Dari hasil penyidikan Unit Reskrim Polsek Simokerto, Masdawati menuturkan, Iqbal kerap dikucilkan pesantren tersebut. Dia sering diolok-olok oleh teman-temannya. Kepada petugas, keempat pelaku mengaku, bahwa mereka juga memang sering membully Iqbal.

“Korban juga sering diolok-olok. Tersangka Munif inilah yang menjadi otak pengeroyokan,” tutur Masdawati saat menggelar presscon kepada wartawan.

Atas kejadian ini, Munif mengajak teman-temannya untuk mengambil tindakan sendiri. Mereka tidak melaporkan kehilangan uang itu kepada pengurus pondok pesantren. Tersangka Munif jengkel karena uang hilang. Dia lalu  menendang kaki dan memukul dada Iqbal.

Pihak kepolisian juga telah melakukan pemeriksaan terhadap 10 orang saksi, termasuk tukang becak dan pengurus ponpes. Ada dua orang pengurus yayasan dan tukang becak yang saat itu mengantarkan korban ke rumah sakit.

“Selanjutnya, kami bakal secepatnya mengirim berkas ke Jaksa Penuntut Umum dan berkordinasi dengan Bapas. Mengingat, tiga pelaku masih di bawah usia 17 tahun,” tandasnya.

Sementara itu, Kanitreskrim Polsek Simokerto Iptu Suwono mengatakan, beberapa penyidiknya mendapat keterangan dari beberapa saksi bahwa korban sempat mendapat pertolongan. Saat tergeletak, korban sempat dikasih minum namun muntah. Luka pada bagian dadanya adalah yang paling fatal.

“Jadi korban ini tidak meninggal di tempat,” kata Suwono. Atas ulahnya, para tersangka dijerat pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan, bukan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan.

Pertimbangannya adalah, para pelaku tersebut tidak sampai mengira korban bakal tewas. Atas pasal yang disangkakan, para pelaku terancam hukuman maksimal 12 tahun penjara. (sbyry/and)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here